DASAR-DASAR MANAJEMEN

KARYA

G.R. Terry dan L.W.

DI TERJEMAHKAN
OLEH
G.A. Ticoalu
PENERBI:
Bumi Aksara jakarta, 1996
DAN
DIKLAT
DASAR-DASAR MAJEMEN
OELEH
DRS.A.ISA ANSHORI, M. SI

DIRESUME
OLEH
AL-QOMARUDDIN
NIM: B06208037
JUR/PRODI:
KOMUNIKASI G-2
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN) Surabaya
V
KATA PENGANTAR.

Puji syukur kehadirad Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayatnya kepada kami. Sholawat serta salam yang kami curahkan keda junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Sehinga kami dapat menyelesaikan tugas meresume buku dasar-dasar manajemen ini dengan tepat waktu.
Mungkin dalam resume buku dasar-dasar manajemen ini banyak kekuranga atau kelebiahan yang tidak disadari oleh kami.
Daftar isi:………………………………………………………………….

1. Kata pengantar:………………………………………………………
BAB I
Pendekatan-pendekatan ilmu pengetahuan…………..
Lima pendekatan utama……………………………………..
Memberiakan nama fungsi………………………………….
BAB II
Sejarah perkembangan manajemen………………………
BAB III
mengevaluasi fakto-faktor keputusan……………………
tehnik-tehnik mengambil pilihan…………………………
mengambil keputusan………………………………………..
BAB IV
merencanakan sasaran dan tujuan………………………
tingkat-tingkat tujuan……………………………………….
menetapkan tujuan…………………………………………..
BAB V
KERJA PERENCANAAN
difinisi perencanaan………………………………………….
mengapa merencanakan?…………………………………..
perencanaan formal…………………………………………..
set “timing”-penetapan waktu……………………………
jenis-jenis perencanaan…………………………………….

BAB I

Pendekatan-pedekatan Ilmu manajemen.
Kerangka 1.1.

Manajeman adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Manajemen adalah suatu kegiatan, pelaksanaanya adalah “menaging”-pengeloaan sedangkan pelaksanaanya disebut manager atau pengelolah.
Dan juga manajemen adalah ilmu pengetahuan maupun seni. Ada suatu pertumbuhan yang teratur mengenai manajemen -suatu ilmu pengetahuan yang menjelaskan manajemen dengan pengacuan kepada kebenaran-kebenaran umum. Hubungan-hubungan sebab mushabab antar “variabel” dalam manajemen sesudah ditentukan dan diungkapkan sebagai generalisasi takluk kepada penelitian selanjutnya dan sesuai dengan pengetahuan baru.
Seni adalah pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang dihasilkan dan yang diinginkan. Ia adalah kecakapan yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta menggunakan pengetahuan manajemen.
Pada hakikatnya, tugas seorang manager adalah menggunakan usaha para bawahan secara berdayaguna. Namun seorang manager menghabiskan waktunya dengan pengelolahan, biasanya mereka melaksanakan suatu pekerja non-manajemen. Dan manajemen mempunyai tujuan tertentu dan tidak dapat diraba. Ia berusaha mencapai hasil-hasil tertentu, biasanya diungkapkan dengan istilah-istilah “objective” atau dengan hal-hal yang nyata. Kelompok-kelompok itu memberi sumbangannya kapada pencapaian khusus itu. Mungkin manajemen dapat digambarkan sebagai tidak nyata, karena tidak bisa dilihat, tapi hanya terbukti oleh hasil-hasil kerja yang ditimbulkanya “output” atau hasil kerja yang menadai.

Kerangka 2.1.
manajemen sama tuanya dengan peradapan di Yunani kuno dan kerajaan Romawi, ditemukan berlipah-lipah bukti dari manajemen dalam arsip sejarah pemerintahan, tentara dan pengadilan-pengadilan. Manajemen pertengan pertama abab ke 19, manajemen sudah membuat kemajuan serta dengan peningkatan alat-alat produksi. Penentuan biaya produksi dan ukuran kerja mulai digunakan. Sepanjang sejarah abab 19 dan 20, makin banyak peneliti, industrialis dan pegawai pemerintah yang tertarik pada manajemen. Perhatian diarahkan pada organisasi, penggunaan waktu bedayaguna, dan pengawasan anggaran. Uasaha-usaha yang diarahkan kepada perkembangan teori manajemen pembangunaan sebuah kerangka bagi manajemen di masa depan diperkirakan pula. Kira-kira tahun 1939, prinsip bahwa manusia merupakan pertimbangan terpenting dalam
manajemen dan menyebabkan banyak orang yang berpaling kepada penelitian perilaku manusiia.
Beberapa dasawarsa kemudian, kemenudian tersedialah “computer”, yang membawa bersamanya penekanan yang lebih besar pada metode-metode analisa kuanlitatif dalam manajemen. Penggunaan matematika dan statistik merupakan pendekatan yang baru terhadap manajemen. Yang lebih akhir adalah masuknya pendekatan-pendekatan lain, seperti pemusatan pengambilan keputusan dan analisa sitem-sistem,ke dalam arus utama pemikiran manajemen. Dari perkembangan ini, munjulah pendekatan utama terhadap manajemen. Manajemen adalah suatu pokok pembahasan yang universal dan konsep itu penelitian-peneliti dan para praktisi dari bidang -bidang yang sangat beraneka ragam, termasuk didalam nya ilmu-ilmu ekonomi , psikologi, sosisologi, ilmu politik, dan matematika. Berkelanaan dengan setiap aliran utama pemikiran itu membantu dalam penelitian manajemen dan memperkirakan perkembangannya dan kegunaannya.
lima macam pendekatan utama
1.Proses Pendekatan Oprasional. Manajemen dianalisa dari sudut pandang apa yang diperbuat seorang manajer untuk memenuhi persyaratan menjadi seorang manajer. Kegiatan-kegiatan itu atau fungsi dasar ke dalam manapara manajer terlibat, membentuk proses yang dinamakan proses manajemen. Pendekatan proses itu memusatkan perhatiannya pada fungsi-fungsi dasar manajemen. Penganut pendekatan ini memandang manajemen sebagi suatu proses universal.
2.Pendekatan prilaku manusia . Inti pendekatan ini adalah prilaku manusia . Hal itu memberikan manajemen metode-metode dan konsep ilmu-ilmu sosial yang bersangkutan, khususnya psikologi dan anrtopologi. Penekanan kepada hubungan-hubungan antara perorangan serta dmpaknya.
3.Pendekatan Sistem Sosial. Para pendukung pendekatan ini menandang manajemen sebagai sistem sosial, atau dengan perkataan lain, sebagai suatu sistem interrelasi budaya. Ia berorentasi secara sosiologis. Pendekatan ini memperhitungkan kelahiran, manfaat dan fungsi suatu “organisasi infonmal “, yang dianggap tumbuh menjadi sesuatu, terutama sebagai akibat kekuatan-kekuatan sosial. Ia juga memperhitungkan pertimbangan-pertimbangan etika, pengaruh masyarakat , serikat-serikat , kerja dan pemerintah. Hasil bersih dari pendekatan sistem sosial adalah terbatasnya kekuatan paham sosialogis ke dalam penelitian dan teori manajemen.
4.Pendekatan Sistem-Sistem. Konsep- konsep sistem-sistem merupakan bagian sentral yang di kembangkan pendekatan ini. Suatu sistem dapat di pandang sebagai suatu kumpulan atau himpunan dua komponen atau lebih, yang saling berada dalam hubungan tertentu dan antara mana suatu kegiatan menimbulkan reaksi pihak lain. Dengan kata lain sistem adalah seperangkat komponen yang saling berhubungan dan saling beraksi. Sistem-sistem bersifat fundamental bagi kebanyakan kegiatan.
5.Pendekatan Kuanlitatif. Titikbrat di sisni adalah penggunaan model-
model matematika dan proses, hubungan-hubungan dan data yang dapat di ukur. Pendekatan ini sudah menunjukkan kegunaan manejerialnya yang benar.
Manajemen di pandang sebagai kesatuan yang logis, yang kalau diungkapkan dan dihubungkan dalam istilah=istilah kuanlitatif dan diproses dengan suatu
metodelogi yang diterima, menghasilakan jawaban-jawaban atas persoalan manajerial, yang didifinisikan secara hati-hati. Pendekatan ini memaksa si pemakai untuk mendifisikan dengan tepat segala tujuan persoalan dan hubungan dengan cara yang dapat di ukur. Seharusnya pengakuan adanya hambatan-hambatan yang pasti dan menggunakan proses yang logis memberikan kepada sang manajer duatu alat atau cara yang ampuh untuk mrnyelesaikan persoalan manajemen tertentu yang komplek.
Menentukan fungsi manajemen yang paling penting adalah seperti berusaha untuk menentukan kaki yang mana yang paling penting pada sebuah kursi. Semua kaki adalah penting dan hrus ada agar kursi itu dapat berfungsi dengan baik . Tetapi seperti kursi itu, kalau salah satu dari fungsi-fungsi manajemen itu lemah, maka proses manajemen itu tidak berfungsi dengan baik.
Memberikan nama bagi fungsi-fungsi itu.
Harus dikemukakan, bahwa tidak semua penulis manajemen sepakat mengenai nama apa yang harus diberikan kepada fungsi manajemen itu. Ada kesepakatan umum, bahwa perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan harus disebutkan sebagai fungsi-fungsi manajemen. Sebagai penulis memaksukkan fungsi kepegawaian sebagai satu bagian dalam fungsi pengorganisasian. Ketidak sepakatan utama meliputi istilah yang diberikan kepada fungsi manajemen, yang bersangkutan dengan pemotivasi. Beberapa penulis lain menggunakan “motivating,” sebagian lagi “ directing,” sedangkan yang lain menggunakan “leading,” influencing, atau “actuating,” memimpin, pempengarui, atau menjelaskan, istilah “motivating” akan digunakan dalam buku ini.
Ada sasaran untuk membuat fungsi-fungsi tambahan di anggap sebagai hal yang pokok dalam proses manajemen, termasuk kedalamnya, pemberian kuasa, komunikasi – “ counseling” -rembukan- mengevaluasi, mengintegrasikan , menilai dan nentukan pengelompokan. Seorang menajer melaksanakan semua ini, tetapi untuk memaksukkan fungsi-fungsi seperti itu kedalam1 pengelompokan itu sangat berlebih-lebihan karena hal itu seudah termasuk seridak-tidaknya
kedalam satu dari lima fungsi pokok itu. Seharusnya ditekankan bahwa fyngsi-fungsi dasar dari manajemen adalah saling berkaitan. Perencanaan umpamanya mempengaruhi pengorganisasian, dan pengorganisasian mempengaruhi pengwasan . Satu fungsi sama sekali tidak berhenti , sebelum yang lain di mulai. Fungsi-fungsi itu jalin-menjalin tanpa terpisah; dan biasanya mereka tidak dijalankan dalam suatu uritan tertentu, tetapi tampaknya menurut yang di kehendaki keperluan masing-masing. Untuk mekancarkan suatu organisasi baru, biasanya dimulai dengan perencanaan, diikuti oleh fungsi-fungsi yang lain ; tetapi bagi sebuah organisasi yang sudah mapan, pengawasan pada waktu tertentu mungkin diikuti dengan perencanaan, dan sebaliknya , di ikuti pemotivasi.

BAB 2
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MANAJEMEN
membicarakan kapan timbulnya perkembangan manajemen, sama halnya degnan membicarakan keberadaan manusia sebagai mahluk masyarakat yang hidup dimuka bumi ini. Artinya walau pun dalam bentuk yang sederhana, pada
dasarnya sudah melakukan pemikiran yang marjinal.
Contoh: pada zaman Nabi Musa AS telah muncul pemikiran-pemikiran marjinal, yaitu pada saat perjalanan Nabi Musa dari Mesir menuju Shiftin yang berjarak kurang lebih 380 mil. Dan perjalanan itu dilakukan bersam-sama dengan pengikut beribuan. Pada awalnya segala keputusan Nabi Musa sendiri.
Pada zaman Yunani kuno, romawi kuno; pemikiran manajemenpun sudah mulai diterapkan dan setelah itu perkembangan mqanajemensearah dengan perkembangan keahlian dan pengetahuan dan keterampilan yang dipereleh manusia.
Tentang perkembangan manajemen itu sendiri, bnayak pandangan para ahli yang menjadi berbagai aliran, antara lain:
1.Manajemen tradisional: manajemen pada mulanya berkembang secara alamiah yang berorientasi pisik, siapa yang berkuasa dia lah yang menjadi pemimpin atau manajer. Manajemen ini berprinsip pada garis keturunan.
2.Manajemen modern : priode manajemen modern ini, ditandai dengan sudah dipelajari manajemen sebagai ilmu yang mempunyai dasar-dasar logika ilmiah, sehingga banyak melibatkan ahli manajemen maupun ahli ekonomi untuk melakukan penelitian tentang manajemen yang menghasilkan berbagai teori maupun aliran manajemen. Teori-teori ini pertama kali dirintis oleh; Robert Owen, Adam Smith, Charles Babbage dan Max Weber.
BAB 3
Manajer Sebagai Pembuat Keputusan

kerangka13

Ciri-ciri dari seorang manjer adalah bahwa ia seorang pembuat keputusan. Seorang manjer harus menentukan tujuan-tujuan yang hendak dikerjakan. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, manajer harus memutuskan tindakan-tindakan khusus apa yang perlu, cara-cara baru apa yang di perkenalkan, dan apa yang harus dibuat untuk mempertahankan hasil kerja yang memuaskan. Membuat keputusan adalah mememilih satu alternatif dari dua pilihan atau lebi, umtuk menentukan suatu pendapat atau perjalanan suatu tindakan.
Dalam pengambilan keputusan seorang manajer berurusan dengan nilai-nilai yang akan datang , yang sapai tingkat tertentu masih belum diketahui. Selanjutnya, penyaringan suatu pilihan selalu di dasari atas beberapa kriteria, seperti menghemat ongkos, menhemat waktu atau meningkatkan kualitas para manajer.
Mengevaluasi Faktor-faktor Keputusan
dalam usaha-usaha ini ditinjau faktor-faktor dan tindakan nyata dan yang tersembunyi. Yang pertama mencakup keuntungan-keuntungan, dolar :jam kerja, jam produksi, dan data kuanlitatif lainya yang sudah ditetapkan . Faktor-faktor ini saling berhubungan. Untuk memberikan suatu penggabaran maksimasi keuntungan biasanya, sebagian tergantung dari perbwandingan berbqagai foktor fisik. Dalam perencanaan produksi mungkin pemakaian tenaga kerja dan pemuatan mesin-mesin menjadi faktor fisik yang membatasi dalam mengukur
program-program daftar produksi. Kalau faktor-faktor nyata banyak terdapat serta dapat diukur dan faktor tersembunyi secara relatif sedikit, maka penyaringan pilihan atas dasar faktor -faktor nyata secara relatif sederhana namun harus diingat, bahwa faktor pisik itu didasarkan atas pikiran dan ramalan, yang jarang dilakukan secara sseksama datepat.
Dalam evaluasi ini adalah membantu, untuk memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang benar-benar penting atau yang merupakan penghambatan apakah faktor itu tetap atau tidak tetap, dan yang sangat menentukan bagi tercapai tujuan. Melalui pendekatan ini, maka tugas mengevaluasi menjadi dapat dikendalikan. Namu, mungkin faktor penghambat atau fakto-faktor itu khususnya, kalau reaksi-reaksinya menjadi kompek dan faktor tersembunyi sebagian orang menggunakan istilah “ limiting factor” dan “ complementery factor” untuk menunjukkan, masing-masing, faktor-faktor yang menggantikan atau menghalangi dan faktor yang tidak menjadi penghambat.

Kerangka 23
Tehnik-tehnik untuk mengevaluasi pilihan
Banyak teknik-teknik untuk mengevaluasi pilihan-pilihan. Teknik-teknik itu bernadakan mulai dari apa yang berbau terkaan sanpai analisa-asnalisa matematis yang amat canggih. Tidak satupun dasar terbaik untuk semua keadaan. Pilihan tergantung dari latar belakang dan pengetahuan sang manajer serta situasi khusus pengambilan keputusan. Yang berikut ini termasuk pilihan-pilihan yang paling sering diambil.
1.Analisa marjinal. Teknik perbandingan biaya ekstra dan penghasilan yang berasal dari penambahan sebuash unit lagi. Titik maksimasi keuntungan adalah volum dimana bagi unit terakhir yang ditambahkan, pendapat tambahan sama besarnya dengan biaya ekstra. Pada setiap volum yang lebih kecil, pendapatan marjinal melampaui ongkos marjinal dan pada setiap volum yang lebih besar, maka ongkos marjial melampaui pendapatan marjinal.
2.Teori psikologi. Banyak persoalan yang harus diputuskan seorang manajer, bersifat tidak ekonomi. Keputusan mengenai luasnya sebuah kantor, misalnya, mungkin saja dipengaruhi oleh nilai-niali psikologi. Contoh-contoh lain mencakup keputusan-keputusan yang berdasarkan keputusan individu seorang anggota manajemen, yang dijunjung tinggi oleh para manajer tertinggi, atau keinginan akan kebesaran untuk kebesaran semata.
3.Iintuisi-bisikan hati. Pembuatan keputusan yang didasarkan pada intuisi, bercirikan penggunaan “ perasaan-perasaan batin” orang yang membuat keputusan. Mungkin hal itu sejenis indra keenam yang tak terterangkan dalam
suatu keadaan. Kadang-kadang intuisi itu merupakan suatu perasan, yang hampir seketika itu saja timbulnya, bahwa suatu tindakan pastilah menuju ke hasil-hasil tertentu yang sudah dinyatakan. Proses pengambilan keputusan seperti ini mungkin intuisi terdapat, sampai batas-batas tertentu, dalam kebanyakan pengambialn keputusan. Ia tidak selalu memberikan hasil yang memuaskan, tetapi cepat meberikan keputusan.
4.Pengalaman. Hubungan erat dengan dan pengertian mengenai persoalan memerlukan pengalaman. Pengalaman memberiakan bimbingan dan membantu menggeneralisir keadaan masa lau. Sebagai orang menegaskan bahwa mempercayai pengalaman membuat keputusan.keadaan berubah, peganmbilan keputusan yang berhasil dimasa lalu.
5.Mengikuti sang pemimpin. Sejumlah besar keputusan-keputusan dibuat dengan mengikuti dalam beberapa hal meniru kembali keputusan yang sudah dibuat olehpemimpin. Keputusan-keputusan berpola adalah hasil praktek mengikuti sang pemimpin.
6.Percobaan . “ caba dulu pilihan itu dan lihat apa yang terjadi”, dapatkah berdaya guna dalam memmutuskan jalan apa yang akan ditempuh. Ini dasar pembuatan keputusan yang digunakan dalam penyelidiakan ilmiah dan dalam rencana produk baru dan pekerjaan pembangunan.sebelum melangkah secara nasional akan memberiakan satu ilustrasi yang baik.
7.Analisa. Keputusan apakah yang akan diambil, dalam keadaan tertentu, dan dapat diambil dengan memcahkan persoalanya atas berbagai komponen dan meneliti masing-masing komponen-koponen lain. Jadi, segi-segi kritis dalam pembuatan keputusan ditampilkan ke depan dan hubungan-hubungan kausal, karena mempengaruhi tujuan-tujuan, yang ditentukan. Pertanyaan digunakan untuk membantu dalam analisa. Pendekatan itu memperkecil fakta-fakta, yang dianggap pokok untuk keputusan itu, sampai hal-hal khusus yang terpenting saja. Kemampuan konsep, merupakan suatu langkah penting dalam pendekatan ini.
8.Metode-metode kuanlitatif. Ditahun akhir-akhir ini terdapat suatu kecendrungan yang bertambah besar kearah penggunaan metede-metode kuanlitatif dalam pembuatan keputusan manajemen. Metode-mtode ini menggambarkan : (1). suatu sudut pandang yang luas, yang kadangkala disebut dengan istilah “ system view” pandangan sistem-sistem, (2). identifikasi dan penggunaan tujuan, (3). kuantifikasi semua faktor yang tak tetap yang bersangkutan, (4). menggunakan model-model abtraksi matematika, yang menunjukan pola-pola hubungan dalam istilah-istilah kuanlitatif, (5). optimasi atau minimasi suatu fungsi tertentu, seperti efisiensi belanja; dan (6). cara berpikir yang teratur dan metodelogi yang logis.
Kerangka 3 3
Pembuatan keputusan
siapa yang seharusnya membuat keputusan-keputusan khusus dalam manajemen? Suatu keputusan tertentu seharusnya dibuat oleh seseorang, pada tingkat organisasi yang piling rendah, yang mampu mempunyai kemampuan,
keinginan dan pintu masuk informasi bersangkutan, dan yang berada posisi untuk
7
mempertimbangkan faktor-faktor tanpa memihak-mihak.
Keputusan dibuat berdarkan: (a) seorang individu, maupun (b) sebuah kelompok. Yang pertama dapat dilakukan, selama keputusan itu sederhan, dan semua alternatif dipahami sepenuhnya
Membuat keputusan secara individu adalah memenuhi peran penting dari apa yang seharusnya dilakukan seorang manajer. Keadaan-keadaan darurat secara khas diputuskan ats dasar perseorangan. Keadaan-keadaan darurat selalu saja timbul, tetapi tidak seharusnya membenarkan pengambilan keputusan darurat sebagai cara kerja umum yang diterima. Apakah akan mengambil atau mengundurkan suatu keputusan darurat terutama sekali ditentukan oleh akibat-akibat dari tidak mengambil keputusan.
Dasar kelompok untuk membuat keputusan makin lama makin diterima secara luas. Keputusan yang dibuat oleh kelompok adalah lebih besar dan yang kedua kelompok itu mempunyai gugusan alternatif-alternatif yang lebih luas dalam proses keputusa. Membuat keputusan ssecara kelompok juga mempunyai keuntungan yang lain. Ikut serta dalam proses membuat keputusan meningkatkan penerimaan keputusan itu oleh angata-anggota kelompok dan mengurangkan masalah membujuk kelompok untuk menerina keputusan itu. Ini terutama sekali benar, kalu diliksanakan lebih sempurna tidak saja keputusan itu. Tetapi juga pilihan yang sudah dipertimbangkan, adalah hasil dari pembuatan keputusan kelompok. Hal ini khusus membantu kalau perseorangan, yang harus melaksanakan keputusan itu, ikut serta dalam memutuskan.
Sebuah ciri khas tambahan membuat keputusan berkelompok adalah yang menyangkut resiko, yang perorangan bersedia mengambilnya oleh sebuah kelompok, yang terdiri atas perorangan yang sama. Percobaan- percobaan labolatorium sudah menunjukkan, bahwa keputusan-keputusan yang diambil atas dasar suara yang tidak bulat oleh sebuah kelompok, tetapi saja lebih banyak resikonya dari pada rata-rata masing-masing keputusan. Hal ini agak mengherankan kalau diingat fakta, bahwa tekanan kelompok seringkali menghalangi anggotanya.

BAB 4
Merencanakan Sasaran Dan Tujuan.
Kerangka 14

Titik tolak proses manajemen adalah menentukan obyectives atau tujuan
tujuan organisasi. Obyectives direncanakan untuk memberikan kepada suatu organisasi dan anggota-anggotanya arah maksud. Sanat sulit untuk mempunyai manajemen yang berhasil tanpa tujuan-tujuan yang didefinisikan dengan baik. Tujuan-tujuan yang didefinisiakan dan dan diberitahukan sedemikian rupa sehinga tujuan-tujuan itu dapat digunakan sebagai suatu ukuran keberhasilan atau kegagalan. Sasaran dan tujuan keduanya digunakan secara berganti-gantian untuk
kata obyectives. Harus juga diakui, bahwa sebagai penulis mengambarkan obyectives sebagai suatu yang agak lebih khusus dan berjangkauan lebih dekat.
Dan tidak hanya manajer yang mementingkan obyectives. Tujuan-tujuan
yang dikenal dan didefinisiakan dengan baik dapat mempunyai kekuatan motivasi didalamnya dan dengan sendirinya tujuan dapat membawa kepada tindakan membimbing usaha-usaha manajemen secara efektif dan menolong untuk meniadakan usaha-usaha yang sia-sia.
Mendifisikan dan memperkenalkan tujuan-tujuan yang bersangkutan harus mengetahui tujuan itu,dan semua anggota manajemen harus bekerja sama menujunya. Agaknya, hal ini dapat diterima begitu saja, akan tetapi, terlalu sering tujuan itu dinyatakan secara kabur, kalaupun ada dilakukan. Persoalan lainya adalah kecendrungan para manajer untuk tenggelam dalam persoalan-persoalan mendesak dan kehilangan pandangan dari tujuan mereka.
Tingkat tujuan-tujuan
obyectives dipecah dalam tiga jenis yang berbeda-beda dalam kebanyakan organisasi. Jenis-jenis itu adalah :( 1) yang bersifat organisasi,Tujuan yang bersifat oraganisasi bersangkutan dengan maksud-maksud, nilai-nilaiyang diciptakan dan arah umum organisasi itu. Mereka biasnya runglingkupnya luas. (2) yang bersifat manajemen. Tujuan-tujuan bersifat manajemenlebih terperinci dan menyangkut faktor-faktor seperti kuantitas dan kualitas(3) yang bersifat perorangan. Tujuan-tujuan perseorangan diperorangkan bagi tiap orang perorangan. Tujuan itu mengariskan apa yang sedang diusahakan perorangan itu untuk mencapai dan mendapatkanya.

Kerangka 24

Menetapkan tujuan-tujuan
Terdapat perdaan-perbedaan pendapat mengenai siapa yang harus menepatkan tujuan utama atau tujuan puncak. Sebagai orang mengambil pandangan, bahwa tujuan seperti itu seharusnya dirumuskan teruma sekali oleh dewan direksi, pemerintah, atau faktor-faktor lingkungan. Yasitu , dalam satu segi, tujuan-tujuan itu seharusnya diserahkan pada tim manajemen untuk mencapainya. Namun, bagian terbesar berpegang bahwa manajer-manajer puncak yang harus
menentukan tujuan-tujua puncak. Bagaimana pun juga, terlepas dari intuisi mereka, tujuan puncak haruslah ditafsirkan, dihaluskan dan diungkapkan dalam istilah yang dapat dipahamioleh anggota manajemen. Maka sudah jelas, bahwa yang paling baik adalah menyuruh para manjer, yang akan bertanggung jawab atas tujuan itu. Hal ini menolong untuk menjamin, bahwa memahami, percaya akan dan setia kepada tujuan itu.
Ciri-ciri khas tujuan-tujuan yang efektif.

1.Tujuan haruslah praktis

2.Tujuan haruslah mempunyai arti yang tepat bagi manajer
menentukan tujuan-tujuan manajerial

Walaupun tujuan manajerial dapat memperluas ruang lingkup dari situasi yang satu ke situasi yang lain, biasanya tujuan itu ternasuk dalam satu dari empat
9
katagori umum: (1) berorentasikan keuntungan, (2) jasa bagi pelanggan, (3) keperluan dan kesejahteran pegawai, dan (4) tanggung jawab sosial. Haruslah diingat, bahwa dalam organisasi “non-profit” sekalipun , para manjer harus memperhatikan keuntungan dalam arti, bahwa mereka pada umumnya harus beroprasi dalam rangka suatu anggaran.

BAB 5
KERJA PERENCANAAN

Kerangka15

Perencanaan mengizinkan manajer itu untuk bersedia untuk perubahan. Si perencana adalah orang peluang yang paling besaruntuk menghimpun semua sumber-sumber dari suatu orgaisasi menjadi satu kesatuan yang efektif. Pendeknya, perencanaan tak dapat diadakan. Ia adalah tangan intlektual dari pertumbuhan kita mendatang.
Seorang manajer menjalan fungsi-fungsi manajerial untuk merealisasikan tujuan yang diinginkan, sedangkan cara untuk mencapainya disusun oleh usaha-usaha perencanaan. Dalam kata lain perencanaan adalah pondasi dari manajemen.

Definisi Perencanaan.

Perencanaan adalah proses memutuskan tujuan apa yang akan dikerjakan selama suatu jangka waktu yang akan datang dan yang dilakukan agar tujuan itu dapat tercapai. Tapi setengan orang mengungkapakan sebagai suatu pendekatan terorganisasi terhadap persoalan yang akan datang dan menguraikan secara lambat laun membentuk pola sekarang untuk kegiatan yang akan datang.
Perencanaan efektif haruslah didasarkan atas fakta-fakta dan informasi dan tidak atas emosi dan keinginan. Fakta-fakta yang bersangkutan langsung dengan
situasi yang dalam pembahasan dikaitkan dengan pengalaman dan pengetahuan manjer itu. Cara berfikir reflektif diperlukan: imajinasi dan pandangan kedepan. Seorang perencanaan harus harus mampu untuk membayangkan pola kegiatan yang di usulkan dengan jelas. Kerena apa yang dipikirkan manajer banyak membengaruhi tindakan-tindakan apa yang diambil. Inilah sebabnya mengapa perencanaan begitu penting. Artinya setiap manajer harus menjalankan suatu fungsi perencanaan.

Mengapa merencanakan?

barang kali dalil utama untuk perencanan adalah, bahwa perkembangan suatu rencana mengadakan untuk si perencana bimbingan dan tujuan. Mencari fakta-fakta; menentukan jalan kegiatan yang akan diikuti dan memperkirakan waktu, tenaga, dan bahan yang diperlukan dengan sedirinya merupakan kekuatan yang positif menuju manajemen yang baik. Karena mengurangi kegitan yang kebetulan dan tidak berguna, usaha-usaha saling tindih.
Akhirnya, perencanaan dapat menunjukan perlunya perubahan yang akan datang. Ia dapat mengungkapkan peluang untuk jasa-jasa baru. Ia membimbing manajemen memikirkan kegiatan yang dikendaki dan masa datang dan memjelaskan cara yang terbaik untuk membuat penggiliran dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan.

Perencaan Formal.

Suatu perencanaan formal dapat didifinisikan sebagai recana yang tertulis, didokumentasikan secara dan dikembangkan melalui suatu proses yang dapat ditentukan jenisnya. Ciri-ciri perencanaan formal adalah (1) rasional, (2) sistematis,(3) selang-seling teratur, (4) perbaikan yang akan datang, (5) dokumen keras. Ketiadaan suatu sistem perencanaan bisa seringkali berakhir dengan prilaku terus-menerus melawan api oleh manajer. Terkecuali kalau ditetapkan sebagai sistem formal dengan tujuan dan jadwal, maka persoalan sehari-hari pada umumnya di dahulukan dari pada perencanaan. Selain itu perencanaan formal mendukung pengintegrasikan kegiatan manajerial dalam organisasi. Suatu proses perencanaan formal melaksanakan kerjasama antar unit kecil organisasi seperti pemasaran fungsional, produksi keuangan dan accounting.

Set “timing”- penetapan waktu.

Segi penetapan waktu dalam perencanaan adalah sangat penting ada waktu yang layak untuk kebanyakan kegiatan. Bantuan untuk mengakui waktu layak ini diberikan oleh perencanaan. Kebanyakan rencana dengan mudah dapat dibagi dalam dua tahap, atau dua jangka waktu berturut-turut, agar kegiatan yang direncanakan berlangsung. Kapan dan dalam batas waktu mana kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pembagian jangkau waktu ini, atau scheduling”,
memberikan vetalitas dan arti prktis kepada sebuah rencana.
Untuk praktis yang sebesar-besarnya , rencana haruslah (a) sederhana kelihatannya, mudah dipahami, diberikan gambar-gambar sebanyak-banyaknya, membarikan contoh yang tepat; (b) menunjukan keuntungannya kepada setiap orang yang menerimanya;(c) memnuhi keperluan yang dirasakan dan berada dalam kemampuan tim manajemen;(d) terpaku dan menyumbang kepada tercapaiya tujuan; (e) dengan jelas memprlihatkan masing-masing tanggung jawab dan kekuasaan yang dikehendaki untuk setiap kelompok atau perorangan, maupun kaitan-kaitan antara peserta dalam rencanaitu.

Kerangka 25

jenis-jenis rencana.

Karena perencanaan sudah diterapkan pada semua jenis kegiatan, maka terdapat banyak jenis perencanaan. Ssebagian perencanaan menyangkut bidang-bidang yang luas, sebagian agak sempit; setenganya berkaitan dengan pertimbangan tataruang sedangkan yang lain menekankan pada pelaksanaanya, biaya, kualitas, atau sifat-sifat utama lainuya.
1.“Growth plans” Rencana pertumbuhan: rencana ini memetakan arah, kemana organisasi itu bergerak, tujuan-tujuanya, dan cpatnya gerak ekspensi yang dicari. Cara rasional menjamin pertumbuhan yang diinginkan ailah dengan keterikatan anggot-anggota manajemen yang cakap dengan pertumbuhan dan dengan perencanaan pertumbuhan sendiri.
2.Profit plans rencana-rencana keuntungan. Biasanya, jenis perencanaan ini dipusatkan pada kuntungan perproduksi atau kelompok produksi. Dikepalai oleh seorang perencanaan keuntungan seluruh rencana menuju ke usaha dan pengeluaran minimum untuk mewujudkan keuntungan yang maksimum. Jangka waktu yang biasanya untuk rencana-rencana keuntungan adalah satu sampai tiga tahun.
3.“User plans” Rencana pemakaian. Bagaimana cara memasarkan suatu hasil/jasa yang dipilih, atau lebihbaik melayani suatu pasaran terpilih, dijawab dengan suatu rencana pemakaian. Bisanya dinakan “product planning”, perencanaan hasil atau “market planning” perencanaan pasaran jenis perencanaan ini sangat terkenal.
4.“Personal manajemen plans”. Perencanaan urutan pegawaian. Rencana-rencana untuk menarik perhatian, mengembangkan dan mempertahankan anggota-anggota manajemen, makin lama makin penting. Mulai diakui bahwa manajemen kepegawaian tidak dapat dibiarkan saja kebetulan; perencanan sangat lah penting.

About alqonews

tolalitas pada sesuatu itu dalah keharus dalam pilihan hidup. ihktiar suatu yg wajib dilakun semakin sempitnya dunia terhadap ruang gerak individu yang termajilakan secara sistem. kebebasa adalah hak mutlak..!!
This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s