“Anak Punk” Kami Enggak Mau Kriminal

JAKARTA, Punk pada tahun 1980-anmerupakan pergerakan anak-anak muda kelas pekerja di London, Inggris. Mereka menuntut ketidak adilan yang terjadi pada bidang sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi saat itu.

Dengan mengusung semangat we can do it ourselves, para anak punk ini memilih hidup mandiri, bahkan tak jarang yang akhirnya memutuskan keluar rumah dan hidup di jalan.

Lalu, bagaimana cara mereka bertahan hidup?Survival ala anak punk, komitmen hidup mandiri tanpa bantuan siapa pun, termasuk orangtua, membuat anak-anak punk ini harus memutar otak mencari pendapatan bagi dirinya sendiri. Meski sering kali hidup di jalanan, mereka pantang melakukan tindak kriminal, seperti mencuri atau malak.

banyak hal yang bisa dilakukan kami lakukan,. Yang penting kami enggak nyolong duit negara,” canda Geboy (29), pencinta punk yang juga anggota band reggae Djenks’ ini.

Menurut pria yang berpendapat punk bukan sekadar musik ini, setiap anak punk punya cara masing-masing untuk bertahan.

“Sebagian memang ada yang hidup di jalan, tapi sebagian punk ada yang punya usaha lain, seperti workshop sablon, distro, dan band,” ujarnya, Selasa (28/9/2010) di Jakarta.

Pernyataan itu juga senada dengan apa yang diutarakan Dona (25). “Enggak. Kami enggak maunyopet atau kriminal lain karena itu sama aja bikin nama punk makin jelek lagi. Kami cari duit sendiri,” ujar perempuan yang hidup di rumah kontrakan bersama tiga temannya sesama anggota komunitas punk Melody Street Punk ini.

Dona mengatakan, cara anak-anak punk di komunitasnya untuk mencari uang adalah dengan menjadi tukang parkir, manggung, ataupun membantu proyek film titipan orang.

“Biasanya duitnya jarang buat sendiri, paling buat rame-rame, biar nanti kalau kumpul, buat uang rokok atau minum, atau ntar kalau ada yang sakit,” ungkapnya.

Slogan do it yourself itu, yang kemudian mendarah daging di tiap anak punk, berpengaruh pada cara menyambung hidupnya yang tidak mau terikat, seperti masuk menjadi karyawan. “Iya, makanya banyak yang bikin usaha sendiri, paling sablon kaos, distro gitu, atau jasa tato,” Ungkap Dona

Komunitas sebagai rumah

Dona mengatakan, awal masuknya dia ke dalam komunitas punk karena dirinya tengah kabur dari rumah saat kedua orangtuanya berlaku keras bahkan hingga pemukulan.

“Ya, awalnya saya memang kabur dan ketemu temen-temen di sini, dan banyak yang broken home juga, jadi saya ngerasa cocok,” ujarnya.

Dona masuk pada tahun 2005. Sebagai satu-satunya anggota aktif di komunitas yang sudah ada dari tahun 1996 ini, Dona merasa menemukan keluarga, termasuk orangtua yang sudah meninggal dunia.

“Di sini justru karena cewek satu-satunya, saya berasa dilindungin. Di sini udah kayak keluarga lah, ikatannya kuat,” ungkap Dona.

Geboy yang berasal dari komunitas punk Miracles juga mengaku, kekeluargaan di dalam komunitas sangat erat dan lebih nyaman bertukar informasi tentang dunia punk.

Terkait pola perekrutan untuk masuk ke dalam komunitas, baik Dona maupun Geboy, meyakinkan bahwa tidak ada aturan atau prasyarat apa pun untuk masuk ke dalam komunitasnya, ospek pun juga tidak ada. “Dulu sempat ada ospek, tapi anak-anak justru protes pada enggak setuju cara itu, jadi sekarang enggak ada. Kalau mau masuk, ya tinggal datang, kami sih terbuka aja,” ujarnya.

Persyaratan, lanjut Dona, justru akan bertabrakan dengan semangat kebebasan yang ada di dalam punk. “Mereka ke sini cari kebebasan, tapi pas masuk ke dalam malah diatur-atur, kan aneh,” ucap Dona.

Memang, selama didirikan, kata Dona, anggota di komunitas Melody Street Punk memang silih berganti, keluar dan masuk. “Jenuh itu pasti ada, jadi banyak di antara mereka yang akhirnya enggak sanggup dan milih kerja kantoran,” ucap Dona.

Sementara Geboy, yang sudah menerjuni dunia punk dari bangku SMP ini, mengatakan,  orang keluar masuk komunitas punk itu hal yang wajar.

“Ada pula yang menganggap ini (punk) hanya sebuah kenakalan remaja aja. Rasa jenuh pasti ada, tapi karena gue sudah jatuh cinta denga pemikiran ini gue enggak bisa lari walaupun jenuh sekalipun. Punk buat gue ada di hati,” ujar Geboy.*

About alqonews

tolalitas pada sesuatu itu dalah keharus dalam pilihan hidup. ihktiar suatu yg wajib dilakun semakin sempitnya dunia terhadap ruang gerak individu yang termajilakan secara sistem. kebebasa adalah hak mutlak..!!
This entry was posted in Sosial Budaya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s